Showing posts with label terjemahan. Show all posts
Showing posts with label terjemahan. Show all posts

Wednesday, February 23, 2011

Petanda Baru Penyakit Jantung Teridentifikasi

Download file lengkap di halaman ini


Suatu penelitian baru dari Libin Cardiovascular Institute di Fakultas Kedokteran University of Calgary memberikan sinar penyebab yang mendasari penyakit jantung.

Penelitian yang dipublikasikan dipimpin oleh dr. Todd Anderson dan koleganya di empat pusat di Kanada menemukan bahwa disfungsi endotel ( dinding pembuluh darah ) dapat memprediksi siapa yang beresiko mengalami penyakit jantung koroner. Dengan mengidentifikasi petanda baru ini , dokter dapat memberikan intervensi awal untuk mencegah progresifitas penyakit jantung.

Monday, February 21, 2011

Update Pedoman Penatalaksanaan BPH

baca versi aslinya di sini


11 Februari 2011, The American Urological Association (AUA) mengeluarkan pedoman terbaru penatalaksanaan benign prostat hyperplasia (BPH).

Pedoman terbaru yang dirilis memperbaharui rekomendasi sebelumnya, yang pertama kali dipublikasikan pada tahun 2003, untuk mendiagnosis dan menangani gangguan ini. Pedoman yang dirilis online pada tanggal 3 Februari dan akan dipublikasikan dalam terbitan Jurnal of Urology yang akan datang.

Sunday, January 16, 2011

Krisis Antibiotik

Download file lengkap di halaman ini

Tulisan ini merupakan bagian pertama dari terjemahan bebas pada The Antibiotics Crisis : How Did We Get Here and Where Do We Go Next ? yang diambil dari situs medicalnewstoday.com


Beberapa tahun terakhir , ada sejumlah berita mengenai gejala krisis antibiotic, yang membawa kita pada kewaspadaan bahwa kita kehabisan obat untuk mengatasi superbug yang berevolusi, dan dengan kejutan yang mengikuti penemuan NDM1 ( New Delhi Metallo-beta-lactamase-1),

Sunday, November 14, 2010

Pedoman AHA 2010 untuk Resusitasi Kardio Pulmonal

2010 AHA Guidelines: The ABC of CPR Diatur ulang menjadi"CAB"
News Author: Emma Hitt, PhD
CME Author: Laurie Barclay, MD
diterjemahkan bebas oleh Attonk dari http://cme.medscape.com/news

20 Oktober 2010 – kompresi dinding dada sebaiknya menjadi langkah pertama pada cardiac arrest. Oleh karena itu, the American Heart Association (AHA) sekarang merekomendasikan bahwa ABC (Airway – Breating – Compressions) pada resusitasi kardiopulmonal diubah menjadi C-A-B (Compressions – Airway – Breathing)

Perubahan ini didokumentasikan dalam 2010 American Heart Association Guidelines for Cardiopulmonary Resuscitation and Emergency Cardiovascular Care yang dipublikasi pada tanggal 2 November, terbitan tambahan pada Circulation: Journal of the American Heart Association menggambarkan pembaruan pedoman sebelumnya tahun 2005.

Sunday, October 11, 2009

TB tulang dan sendi



Translated by Attonk

Current Medical Diagnosis and Treatment 2008 / Musculoskeletal disorder

Dasar-dasar diagnosis
• Penyakit pada anak , orang dewasa, dan yang terinfeksi HIV
• Pada kebanyakan kasus, lesi tunggal tulang atau sendi terinfeksi
• Tulang belakang – terutama toraks bagian bawah – atau lutut sering menjadi lokasi.
• Gambaran radigraf abnormal pada kurang dari ½ jumlah pasien.

Pertimbangan penting
Kebanyakan infeksi tuberkulosis di Amerika Serikat disebabkan oleh strain Mycobacterium tuberculosis. Infeksi pada sistem muskuloskeletal disebabkan oleh penyebaran hematogen dari lesi primer pada traktus respiratorius ; dapat timbul segera setelah lesi primer atau mungkin bertahun-tahun sebagai reaktivasi penyakit. Tuberkulosis pada tulang dan sendi terjadi pada 1 – 3 % pasien dengan tuberkulosis ekstraparu. Tuberkulosis pada vertebra lumbal atau thoraks (penyakit Pott) merupakan tempat paling sering pada tulang yang terinfeksi dan biasanya terjadi tanpa infeksi ekstraspinal. Penyakit ini terjadi pada anak-anak di negara berkembang dan pada lanjut usia di Amerika Serikat. Jumlah osteomielitis kira-kira 20% dari tuberkulosis muskuloskeletal dan paling sering berdampak pada tulang paha dan tibia. Tuberkulosis pada sendi perifer hampir selalu monoarthrikuler, dengan lutut sebagai sendi paling sering.

Gambaran klinik

Tanda dan gejala

Onset gejala umumnya tersembunyi dan tidak diikuti oleh manifestasi umum seperti demam, berkeringat, keracunan, atau kelemahan. Nyeri dapat ringap pada onset dan umumnya memburuk pada malam hari, dan dapat diikuti oleh kekakuan. Pada proses perjalanan penyakit, keterbatasan pergerakan sendi menjadi prominen karena kontraktur otot dan kerusakan sendi. Lulut sering menjadi prominen sebab kontraktur otot dan kerusakan sendi. Sendi merupakan sendi perifer paling sering. Gejala dari tuberkulosis paru mungkin masih ada.
Penemuan lokal selama stadium awal mungkin terbatas pada nyeri, bengkak jaringan lunak, efusi sendi, dan peningkatan temperatur kulit daerah yang dilingkupi. Seperti perjalanan penyakit yang tidak diterapi, atrofi otot dan deformitas dapat terjadi. Bentukan abses dengan drainase spontan ke luar menyebabkan bentukan sinus. Kerusakan progresif tulang belakng dapat menyebabkan benjolan tulang belakang atau gibbus, terutama pada regio torakolumbal.

Penemuan laboratorium
Dasar diagnosis yang tepat dalam mendeteksi organisme tahan asam adalah dengan tes kultur atau polymerase chain reaction (PCR) dari cairan sendi, pus, atau spesimen jaringan. Biopsi pada lesi tulang, sinovial, atau limfonodus regional dapat menunjukan kekhasan gambaran histopatologi dari nekrosis dan sel raksasa.

Radiologi

Ada periode laten antara onset gejala dengan penemuan positif pada gambaran radiologi. Perubahan paling awal dari TB arthritis adaah pembengkakan sendi dan distensi kapsul oleh efusi. Sesudah itu, atrofi tulang menyebabkan penipisan pola trabekular, mendekati korteks, dan penebalan kanal meduler. Seperti pada progres penyakit sendi, kerusakan kartolago , dalam tulang belakang dan sendi perifer, ditandai dengan batasan sendi dengan erosi fokal dari permukaan sendi, terutama pada tepi.dimana lesi dibatasi dengan tulang, khususnya dalam bagian cancellous dari metafisis, radiografi dapat memperlihatkan kista tunggal atau multiokuler dikelilingi oleh tulang sklerotik. Pada tuberkulosis tulang belakang, CT scan atau MRI membantu menunjukkan perluasan infeksi padda jaringan lunak paraspinal ( mis.abses psoas, perluasan ke epidural).

Gambaran radiologi pada kasus tuberkulosis pada cairan sinovial sendi. A. Hematogenous tuberculosis dari sendi lutut pada laki-laki 22 tahun. Adanya efusi dan pengentalan cairan sinovial, dan kartilago sendi telah diterapi. B. Tuberkulosis pada sendi subtalar pada laki-laki 28 tahun yang ringan. C. Kerusakan total tuberkulosis pada sendi panggul pada pasien laki-laki usia lanjut. (Diproduksi dengan isin dari Petty W. Faigenbaum MC) Churcill Livingstone,1983.

Diagnosis Banding
Tuberkulosis pada system musculoskeletal harus dibandingkan dengan semua infeksi subakut dan kronik, rematoid arthritis, gout, dan kadang dysplasia osseus. Pada tulang belakang, tumor metastasis dapat dicurigai.

Komplikasi
Kerusakan tulang atau sendi dapat terjadi dalam beberapa minggu atau bulan jika terapi yang tidak adekuat diberikan. Deformitas berkaitan dengan kerusakan sendi, bentukan abses yang meluas ke tempat yang berdekatan dengan jaringan lunak, dan bentukan sinus sering ditemukan. Paraplegia merupakan komplikasi paling serius dari tuberkulosis tulang belakang. Sebagai bentuk penyembuhan lesi sendi yang hebat, ankilosis tulang atau jaringan fibrosa spontan akan terjadi.

Penatalaksanaan
Penilaian umum

Pengobatan umum khususnya penting dalam pemanjangan recumbency sangan dibutuhkan, perawat terampil harus diberikan. (lihat juga Infectious Diseases: Bacterial & Chlamydial.)

Kemoterapi
Lihat pulmonologi. Pengobatan dengan kemoterapi tanpa operasi dapat dilakukan pada kebanyakan kasus, sekalipun penyakit yang luas.

Penilaian bedah
Pada infeksi akut dimana sinovitis merupakan gambaran predominan, penatalaksanaan dapat konservatif, setidaknya terapi inisial. Imobilisasi dengan splint atau plester , aspirasi, dan kemoterapi dapat mencukupi kontrol terhadap infeksi. Sinovektomi dapat bermanfaat pada sebagian kecil lesi hepertropis akut yang meliputi sarung tendon, bursa , dan sendi.

Referensi :
Franco-Paredes C et al. The ever-expanding association between rheumatologic diseases and tuberculosis. Am J Med. 2006 Jun;119(6):470–7. [PMID: 16750957]
Gardam M et al. Mycobacterial osteomyelitis and arthritis. Infect Dis Clin North Am. 2005 Dec;19(4):819–30. [PMID: 16297734]



Saturday, October 10, 2009

Sjögren's Syndrome


Terjemahan bebas by Attonk
Sumber : Current Medical and Treatment 2008

Dasar-dasar diagnosis

• 90% pasien wanita ; usia rata-rata 50 tahun
• Gambaran utama berupa mata dan mulut kering (komponen sicca) ; terjadi sendiri-sendiri atau berksaitan dengan rhematiod arthritis atau penyakit jaringan konektif lain
• Munculnya faktor rematoid dan antibodi lain
• Peningkatan insiden limfoma

Pertimbangan umum
Sjögren's Syndrome, suatu penyakit autoimun disebabkan oleh disfungsi glandula eksokrin pada banyak tempat di tubuh. Dicirikan oleh kekeringan pada mata, mulut, dan bagian lain yang ditutupi oleh membran mukosa dan sering dikaitkan dengan penyakit rematik, terutama rhematoid arthritis. Gangguan ini predominan pada wanita dengan perbandingan 9 : 1 , dengan tingkat insidensi tertinggi pada usia antara 40 dan 60 tahun.
Gangguan Sjögren's Syndrome sering dikaitkan dengan rhematiod arthritis, SLE, sirosis empedu primer, scleroderma, polimiositis, thiroiditis hashimoo, poliartritis, dan fibrosis paru interstisial. Ketika ditemukan Sjögren's Syndrome tanpa rheumatoid arthritis, ditemukan antigen HLA-DR2 dan –DR3 dengan peningkatan kejadian.

Gambaran klinik

Gejala dan tanda

Keratokonjungtivitis sicca akibat produksi air mata indadekuat yang disebabkan oleh infiltrasi limfosit dan sel plasma pada glandula lakrimalis. Gejala pada mata biasanya ringan. Rasa terbakar, gatal dan sensasi adanya benda asing atau rasa berpasir pada mata sering terjadi. Pada beberapa pasien, gejala awal berupa inabilitas untuk mentoleransi penggunaan lensa kontak. Banyak pasien dengan tingkat kekeringan bola mata lebih memperhatikan sekresi ...... pada mata mereka, terutama pada pagi hari. Fotofobia dapat menjadi tanda adanya ulserasi kornea akibat kekeringan yang hebat. Pada kebanyakan pasien , gejala mulut kering (xerostomia) mendominasi mata kering. Pasien sering mengeluhkan sensasi ”cotton mouth” dan kesulitan menelan makanan , terutama makanan kering seperti biskuit, kecuali bola mereka membasahinya dengan cairan. Mulut kering persisten menyebabkan kebanyakan pasien membawa berbotol-botol air atau minuman yang dapat mereka minum sedikit demi sedikit. Sedikit pasien dengan xerostomia hebat mengalami kesulitan berbicara. Xerostomia persisten sering menyebabkan karies gigi yang berlarut-larut ; karies pada garis gusi sangat memungkinkan mengarah pada Sjögren's syndrome. Beberapa pasien sangat bermasalah pada kehilangan selera makan dan fungsi penciuman. Pembesaran kelenjar parotis, yang kronik atau berulang, berkembang pada sepertiga jumlah pasien. Pengeringan dapat meliputi hidung, tenggorokan, laring, bronkus, vagina dan kulit.
Gejala sistemik termasuk disfagia, vaskulitis, pleuritis, penyakit obstruksi paru ( pada pasien yang tidak merokok) , disfungsi neuropsikiatri (lebih sering berupa neuropati perifer), dan pankreatitis ; semuanya dapat dikaitkan dengan penyakit yang dicantumkan di atas. Asidosis tubulus ginjal (tipe I, distal) terjadi pada 20% pasien. Nefritis interstisial kronnik, yang dapat menyebabkan gangguan fungsi ginjal dapat ditemukan. Lesi glomerulus jarang diobservasi dapat menjadi gejala sekunder yang dikaitkan dengan krioglobulinemia.

Pemeriksaan laboratorium
Hasil pemeriksaan laboratorium termasuk anemia ringan, leukopenia, dan eusinofilia. Hipergammaglobulinemia poliklonal , hasil positif faktor rematoid (70%) dan antibodi antinuklear (95%) sering ditemukan. Antibodi yaang melawan antigen sitoplasma SS-A dan SS-B (disebut juga Ro dan La) sering ditemukan pada Sjögren's syndrome dan memberikan korelasi dengan adanya manifestasi extraglandular (tabel 20-10 dan 19-2). Autoimun yang dikaitkan dengan tiroid sering ditemukan pada pasien Sjögren's syndrome.
Manfaat test diagnostik mata termasuk tes Schimer, yang mengukur kuantitas sekresi air mata. Biopsi bibir, prosedur sederhana , merupakan teknik spesifik satu-satunya dengan resiko rendah ; jika fokus limfoma ditemukan pada glandula salivatorius aksesoris, diagnosis dapat ditegakkan, biopsi glandula parotis seharusnya disarankan pada gambaran atipik seperti pembesaran glandula unilateral.

Penatalaksanaan dan prognosis
Penatalaksanaan bersifat simptomatik dan suportif. Air mata buatan sering diberikan akan mengeliminasi gejala pada bola mata dan mencegah pengeringan lebih jauh. Mulut sebaiknya diberi lubrikasi. Mengisap air lebih sering atau menggunakan permen karet non gula dan permen padat biasanya menghilangkan gejala mulut kering. Pilocarpin (5 mg peroral 4 kali sehari) dan derifat asetilkolin cevimeline (30mg peroral 3 kali sehari) dapat memperbaiki gejala xerostomia. Obat-obatan atropin dan dekongestan mengurangi sekresi salivasi dan sebaiknya dihindari. Program higienitas mulut, termasuk terapi fluorida, penting dalam melindungi gigi. Jika ada kaitan dengan penyakit rematik, terapi sistemik tidak akan mengubah gambaran dari Sjögren's syndrome.
Meskipun Sjögren's syndrome dapat dikompromi pada kualitas hidup pasien dengan baik, penyakit ini biasanya konsisten selama masa hidup. Prognosis buruk dipengaruhi terutama oleh adanya gejala sistemik yang dikaitkan dengan gangguan yang mendasari, perkembangan pada pasien vaskulitis limfositik, adanya neuropati perifer yang sangat nyeri, dan komplikasi (pada minoritas pasien) limfoma. Pasien (3-10 % dari total populasi Sjögren's syndrome) pada resiko besar untuk perkembangan limfoma dengan disfungsi eksokrin hebat, tanda pembesaran glandula parotis, splenomegali, vaskulitis,, neuropati perifer, anemia dan krioglobulinemia monoklonal.

Referensi :
Brito-Zeron P et al. Circulating monoclonal immunoglobulins in Sjögren syndrome: prevalence and clinical significance in 237 patients. Medicine (Baltimore). 2005 Mar;84(2):90–7. [PMID: 15758838]
Goransson LG et al. Peripheral neuropathy in primary Sjögren syndrome: a population-based study. Arch Neurol. 2006 Nov;63(11):1612–5. [PMID: 17101831]
Ono M et al. Therapeutic effect of cevimeline on dry eye in patients with Sjögren's syndrome: a randomized, double-blind clinical study. Am J Ophthalmol. 2004 Jul;138(1):6–17. [PMID: 15234277]
Ramos-Casals M et al. Cutaneous vasculitis in primary Sjögren syndrome: classification and clinical significance of 52 patients. Medicine (Baltimore). 2004 Mar;83(2):96–106. [PMID: 15028963]



Friday, October 9, 2009

Henoch-Schönlein Purpura

Henoch-Schönlein purpura, vaskulitis sistemik paling sering pada anak-anak, dan muncul juga pada orang dewasa. Gambaran tipikal berupa purpura teraba, nyeri abdomen, arthritis, dan hematuria. Gambaran patologi berupa vaskulitis leukopsitoplastik dengan deposit IgA. Penyebabnya belum diketahui.
Lesi purpura pada kulit khas berlokasi di ekstremitas bawah dan dapat pula ditemukan pada tangan,lengan, badan, dan bokong.
Gejala sendi ditemukan pada kebanyakan pasien, lutut dan pergelangan kaki merupakan daerah tersering yang diserang. Nyeri abdomen merupakan gambaran sekunder dari vaskulitis pada traktus intestinal sering diasosiasikan dengan perdarahan gastrointestinal. Sinyal hematuria menandakan adanya lesi ginjal yang biasanya reversible, meskipun adakalanya dapat berlanjut menjadi insufisiensi ginjal. Anak-anak lebih sering dijumpai terserang penyakit ini dan menyebabkan vaskulitis gastrointestinal lebih hebat, sementara orang dewasa lebih sering menderita penyakit ginjal. Biopsy ginjal menyingkirkan glomerulonefritis segmental dengan deposit IgA.
Penyakit ini biasanya sembuh sendiri, berlangsung 1 -6 minggu, dan mereda tanpa gehala sisa jiga keterlibatan ginjal tidak parah. Bagian kronik dengan penyakit kulit persisten atau intermitten lebih sering terjadi pada orang dewasa dibandingkan anak-anak. Keterlibatan kostikosteroid masih merupakan controversial. Pada anak, prednisone (1 mg/kg/hr oral) dapat bermanfaat pada mereka yang bergejala ekstrarenal hebat dan dengan bukti adanya penyakit ginjal. Kelebihan terapi obat-obatan hemat steroid seperti azathioprine dan mycophenolate mofenil – sering digunakan pada penyakit ginjal – belum diketahui.

Referensi
Coppo R et al. Predictors of outcome in Henoch-Schonlein nephritis in children and adults. Am J Kidney Dis. 2006 Jun; 47(6):993–1003. [PMID: 16731294]
Ronkainen J et al. Early prednisone therapy in Henoch-Schonlein purpura: a randomized, double-blind, placebo-controlled trial. J Pediatr. 2006 Aug;149(2):241–7. [PMID: 16887443]

diterjemahkan bebas dari CMDT 2008

Thursday, August 13, 2009

Fibrilasi Atrium ,Diagnosis dan Penatalaksanaan (5)

Siapa yang dengan riwayat onset baru fibrilasi atrium sebaiknya datang ke rumah sakit ?

Keputusan ini sebaiknya dibuat berdasarkan gambaran klinik dan karakter pasien. Secara umum, pasien dengan hemodinamik yang tidak stabil dengan onset baru fibrilasi atrium, mereka yang dengan penyakit jantung yang mendasari (cth gagal jantung), berusia lebih dari 65 tahun, diduga menderita sindrom koroner akut, dan yang membutuhkan terapi masalah kesehatan lain sebaiknya dirawat. Pasien-pasien berusia muda dengan onset baru fibrilasi atrium paroksismal yang secara spontan berubah yang tidak memiliki kelainan struktur jantung atau gejala lain (cth dispnea, nyeri dada) dapat dipindahkan dari unit gawat darurat dengan pengawasan ketat.

Wednesday, August 12, 2009

Fibrilasi Atrium ,Diagnosis dan Penatalaksanaan (4)

Bagaimana peran ekokardiografi transesofagus (TEE) dan terapi antikoagulan sebelum kardioversi ?

Jika terapi penghambat beta dan penghambat pompa kalsium tidak memberikan respon pada seorang pasien stabil dengan onset baru fibrilasi atrium atau jika efek samping (cth hipotensi) timbul mengikuti terapi dengan agen ini, kardioversi dapat dipertimbangkan. ACC sangat merekomendasikan antikoagulan ( INR antara 2 dan 3) diberikan setidaknya 3 minggu sebelum dan 4 minggu setelah kardioversi pada pasien dengan fibrilasi atrium dengan durasi 48 jam atau lebih atau tidak diketahui, tanpa memperhatikan metodenya (DC vs farmakologis). Pada situasi ini, sebagai suatu alternatif antikoagulan sebelum kardioversi, ada alasan untuk melakukan TEE untuk melihat thrombus pada atrium kiri atau pada bagian dari atrium kiri.

Pada pasien yang tidak ditemukan thrombus, kardioversi segera dengan heparinisasi bersamaan dan selanjutnya antikoagulan selama 4 minggu menjadi pilihan. Namun, pasien yang dengan TEE ditemukan thrombus harus mendapatkan terapi antikoagulan setidaknya 3 minggu sebelum dan 4 minggu setelah kardioversi.


Saturday, August 8, 2009

Fibrilasi Atrium ,Diagnosis dan Penatalaksanaan (3)

Kardioversi

Indikasi : Pasien seperti apa yang mendapatkan kardioversi ?

Pasien dengan gambaran hemodinamik tidak stabil, dengan dispnea yang hebat dan nyeri dada disertai fibrilasi atrium, atau fibrilasi atrium preeksitasi sebaiknya mendapat kardioversi segera. Pada pasien stabil dengan onset baru fibrilasi atrium, strategi rate control sebaiknya menjadi pengawasan pertama ventricular rate. Jika terapi tidak memberikan respon atau jika EKG tidak menunjukkan abnormalitas pada katub atau fungsional jantung , kardioversi dapat diindikasikan.

Bagaimana kardioversi dilakukan dan tingkat keberhasilannya ?

DC kardioversi adalah memberikan arus listrik yang tersinkronisasi pada kompleks QRS ; dapat diberikan dengan bentuk gelombang monofasik atau bifasik. Energi yang dibutuhkan biasanya 100 – 200 J ( kadang-kadang membutuhkan energy yang lebih besar) untuk gelombang monofasik dan lebih sedikit pada ggelombang bifasik. Pasien sebaiknya ditenangkan. Pada pasien dengan fibrilasi atrium dengan durasi yang relative singkat dan atrium kiri yang sedikit membesar , tingkat keberhasilan kardioversi mencapai 75% (mis. Ukurran atrium kiri dan durasi fibrilasi atrium berbanding terbalik dengan tingkat keberhasilan kardioversi)

Apa komplikasi dari kardioversi ?


Emboli merupakan komplikasi terpenting dari kardioversi. Maka, thrombus di jantung sebaiknya dikesampingkan menggunakan transesophageal echocardiography (TEE), atau warfarin diberikan sebagai antikoagulan selama 4 minggu sebelum kardioversi dilakukan. Sebagai tambahan, pasien sebaiknya mendapatkan terapi antikoagulan sekurang-kurangnya 4 minggu mengikuti prosedur.

Komplikasi lain kardioversi berupa edema paru, hipotensi, disfungsi miokard, kulit terbakar, dan dapat dicegah dengan pemberian steroid krim atau teknik yang baik. Kardioversi juga dikaitkan dengan beberapa perubahan pada segmen ST dan gelombang T pada EKG dan dapat meningkatkan kadar biomarker serum jantung. Sinkronisasi mencegah aritmia ventrikel yang serius.

Sisi farmakologi kardioversi : Apa pilihan dan indikasinya ?

Kardioversi merupakan metode yang biasa dilakukan. Meskipun kardioversi farmakologis biasanya sebagai terapi lini pertama, hal ini utamanya digunakan bila Direct Current Cardioversion gagal atau pada beberapa kasus, sebagai strategi prekardioversi.

Terapi awal seperti amiodarone, flecainide, ibutilide, propafenone, atau sotalol telah menunjukkan peningkatan tingkat keberhasilan DC kardioversi dan direkomendasikan oleh the American College of Cardiology (ACC). Strategi ini juga merekomendasikan ketika DC kardioversi gagal dan lebih dulu mengulangi DC kardioversi. Amiodaronee intravena khas diberikan 150 mg bolus dalam 10 – 15 menit, diikuti dengan infuse 1 mg/ menit selama 6 jam dan kemudian 0,5 mg/menit.

Pasien dengan gambaran hemodinamik tidak stabil (seperti dengan hipotensi) tidak dapat mentoleransi obat antiaritmia dan efek samping dan kontraindikasi setiap obat antiaritmia sebaiknya dipertimbangkan sebelum pemberian.Krena efek samping proaritmia dari obat antiaritmia, pasien-pasien ini harus dimonitor setidaknya dalam 24 jam, membutuhkan perawatan inap rumah sakit pada kebanyakan kasus.

Siapa yang harus mengalami kardioversi mendesak ?

Kardioversi mendesak diindikasikan pada pasien tidak stabil disertai onset baru fibrilasi atrium. Dalam scenario ini, jika durasi fibrilasi atrium mencapai 48 jam atau tidak diketahui, heparin sebaiknya diberikan bersama-sama. Selama 4 minggu setelah prosedur, warfarin sebaiknya diresepkan sebagai antikoagulan, dan target international normalized ratio (INR) sebaiknya antara 2 dan 3. Data yang terbatas mendukung penggunaan heparin molekul kecil untuk tujuan ini.



Friday, August 7, 2009

Fibrilasi Atrium ,Diagnosis dan Penatalaksanaan (2)

Bagaimana peranan EKG untuk mendiagnosis Fibrilasi Atrium ?

Ketika dicurigai adanya fibrilasi atrium melalui auskultasi jantung dengan denyut irregular, pemeriksaan pada 12 sandapan EKG merupakan tahap selanjutnya. Karena fibrilasi atrium dikaitkan dengan aktivasi atrium yang ireguler dengan denyut 350- 600 bpm dengan konduksi ireguler yang melalui nodus atrioventrikuler (AV), yang muncul pada EKG sebagai kompleks takikardia irregular. Gelompbang F dapat dilihat sebagai ggelombang fibrilator atau menghilang. Kecuali bila jantung dalam pengaruh rangsang simpatis atau parasimpatis, ventricular rate biasanya antara 80 hingga 180 bpm.

Dengan abnormalitas pada system konduksi intraventrikuler , kompleks QRS melebar. Hal ini penting diperhatikan pada tanda-tanda EKG yang dikaitkan dengan penyakit jantung, seperti hipertrofi ventrikel kiri(LVH) dan preeksitasi.

Bagaimana mendiagnosis faktor predisposisi yang mendasari fibrilasi atrium ?

Berbagai jenis penyakit jantung, seperti penyakit jantung iskemik, penyakit katub, dan kardiomiopati dihubungkan dengan fibrilasi atrium. Oleh karena itu, setelah diagnosis fibrilasi atrium ditegakkan dengan EKG atau pemeriksaan jantung yang lain, evaluasi terhadap biomarker serum jantung dan B-type natriuretic peptide (BNP) biasanya menjadi syarat untuk menyelidiki penyakit jantung yang mendasari. Pemeriksaan jantung yang lebih invasive (cth kateterisasi) dapat dilakukan tergantung pada tanda dan gejala dan hasil dari pemeriksaan awal.
Sebagai tambahan, banyak penyakit nonkardiak, seperti penyakit jantung (contoh PPOK), emboli paru, hipertiroidism, dan banyak penyakit infeksi dan inflamasi, dikaitkan dengan fibrilasi atrium. Maka, pemeriksaan radiografi thoraks, evaluasi serum thyroid stimulating hormone (TSH) , nilai pemeriksaan darah lengkap, dan kimia serum sangat membantu, dan pemeriksaan lain sebaiknya dilakukan tergantung pada gambaran klinik pasien. Jika penyebab fibrilasi atrium (mis hipertiroid) ditemukan, sebaiknya diterapi dan pasien diperiksa lagi setelahnya.



Wednesday, August 5, 2009

Fibrilasi Atrium ,Diagnosis dan Penatalaksanaan

Autor : Ali A Sovari, MD, Clinical and Research Fellow in Cardiovascular Medicine, Section of Cardiology, University of Illinois at Chicago (UIC)
Coauthor(s): Abraham G Kocheril, MD, FACC, FACP, Professor of Medicine, Director of Clinical Electrophysiology, University of Illinois at Chicago
Diupdate: Jul 7, 2009

Diagnosis of Fibrilasi Atrium

Bagaimana pedoman klasifikasi fibrilasi atrium ?

Fibrilasi atrium (Atrial fibrillation) diklasifikasikan menjadi paroksismal, persisten dan permanen. Fibrilasi atrium dikelompokan sebagai paroksismal bila berhenti secara spontan kurang dari 7 hari ( biasanya <24 class="fullpost">
Gejala dan tanda : Bagaimana pasien fibrilasi atrium diduga tidak stabil ?
Fibrilasi atrium dapat memberikan gejala seperti palpitasi, pusing, cemas, lemah , dan sesak nafas ringan, namun, lebih dari 90% episode fibrilasi atrium tidak menimbulkan gejala. 2 Gejala dan tanda yang lebih serius seperti nyeri dada, sesak nafas yang hebat, dan ketidakstabilan hemodinamik, dapat dikaitkan dengan penyakit jantung seperti penyakit jantung iskemik atau gagal jantung. Kardioversi segera direkomendasikan pada pasien dengan yang tidak stabil dikaitkan dengan fibrilasi atrium. Penting untuk menentukan apakah ketidakstabilan hemodinamik dikaitkan dengan fibrilasi atrium atau kondisi -kondisi yang lain.
Sebagai contoh , pada pasien yang sesak dengan saturasi oksigen ringan atau diambang batas merupakan tambahan eksaserbasi pada penyakit paru obstruktif kronik (COPD) dan fibrilasi atrium dengan ventricular rate 110 kali permenit, penanganan eksaserbasi PPOK (dibandingkan dengan kardioversi untuk mengobati fibrilasi atrium) lebih menguntungkan. Denyut jantung 110 kali permenit tidak dapat menjelaskan dispnea dan saturasi oksigen yang rendah, dan gejala dan tanda pada pasien lebih baik dijelaskan oleh penyebab yang lain.

Sunday, March 22, 2009

Down Syndrome

Dasar diagnosis
• Bentuk muka tipikal(occiput datar,lipatan epikantus dan lidah lebar)
• Retardasi mental
• Penyakit jantung congenital (mis defek katub triventrikuler) pada 50% pasien.
• Trisomy 21atau penyusunan kembali kromosom yang menyebabkan 3 tiruan dari suatu bagian lengan panjang kromosom 21.

Gambaran klinis

Tanda dan Gejala
Sindrom down biasanya didiagnosis pada saat kelahiran berdasarkan roman muka yang khas, hipotoni, dan lipatan palmar tunggal. Beberapa masalah serius yang dapat terjadi pada kelahiran atau berkembang pada masa kanak awal termasuk atresia duodenalis, penyakit jantung congenital (terutama defek kanal atrioventrikuler) dan leukemia. Anomali usus dan jantung biasanya berespon terhadap pembedahan, dan leukemia biasanya berespon terhadap penanganan konservatif. Inteligensi bervariasi dalam spektrum yang luas. Banyak orang dengan sindrom down dapat bekerja dengan baik di tempat-tempat kerja yang menaungi dan kelompok-kelompok,tetapi sedikit pencapaian kebebasan penuh pada remaja. Demensia yang menyerupai alzheimer biasanya menjadi bukti pada decade keempat atau kelima dan jumlah yang bertahan setelah remaja menurun tingkat harapan hidupnya. Penelitian menempatkan resiko dan keparahan demensia pada hubungannya dengan apolipoprotein genotip E yang masih menimbulkan prokontra.

Pemeriksaan laboratorium
Analisa sitogenetik sebaiknya selalu dilakukan meskipun kebanyakan pasien memiliki trisomi kromosom 21 untuk mendeteksi gangguan translokasi , pasien mungkin memiliki salah satu orang tua dengan translokasi stabil, dan akan ada resiko rekuren substansial dari sindrom Down pada keturunan yang akan datang.

Pencegahan
Adanya fetus dengan sindrom Down dapat dideteksi pada awal trimester kedua melalui screening serum maternal untuk α-fetoprotein dan hormon tertentu (multiple marker screening) dan dengan mendeteksi peningkatan ketebalan dan ultrasound fetus. Resiko mengasuh anak yang menderita sindrom Down meningkat secara eksponensial dengan usia ibu saat konsepsi dan dimulai usia 35 tahun. Pada usia 45 tahun, ibu memiliki kemungkinan 40% memiliki anak yang menderita. Resiko dari keadaan lain yng berhubungan dengan trisomi juga meningkat, karena peningkatan predisposisi dari oosit tua untuk tidak memisah selama meiosis. Ada resiko kecil dari trisomi yang dikaitkan dengan peningkatan usia dari pihak ayah. Namun, laki-laki yang lebih tua memiliki suatu peningkatan resiko menjadi ayah dari anak dengan suatu keadaan dominan autosomal yang baru.

Terapi
Atresia duodenal sebaiknya diterapi secara bedah. Penyakit jantung konganital sebaiknya diterapi sama seperti pasien lain. Tidak ada terapi kesehatan telah membuktikan efektivitas pada kemampuan intelektual.

Kepustakaan
Andriolo RB et al. Aerobic exercise training programmes for improving physical and psychosocial health in adults with Down syndrome. Cochrane Database Syst Rev. 2005 Jul 20;(3):CD005176. [PMID: 16034968]
Cohen WI. Current dilemmas in Down syndrome clinical care: celiac disease, thyroid disorders, and atlanto-axial instability. Am J Med Genet C Semin Med Genet. 2006 Aug 15;142(3):141–8. [PMID: 16838307]
Dierssen M et al. Pitfalls and hopes in Down syndrome therapeutic approaches: in the search for evidence-based treatments. Behav Genet. 2006 May;36(3):454–68. [PMID: 16520905]
Dixon N et al. Clinical manifestations of hematologic and oncologic disorders in patients with Down syndrome. Am J Med Genet C Semin Med Genet. 2006 Aug 15;142(3):149–57. [PMID: 17048354]
Galley R. Medical management of the adult patient with Down syndrome. JAAPA. 2005 Apr;18(4):45–6, 48, 51–2. [PMID: 15859488]
Reddy UM. Incorporating first-trimester Down syndrome studies into prenatal screening: executive summary of the National Institute of Child Health and Human Development workshop. Obstet Gynecol. 2006 Jan;107(1):167–73. [PMID: 16394055]
Tolmie JL et al. Down syndrome and other autosomal trisomies. In: Emery and Rimoin's Principles and Practice of Medical Genetics, 5th ed. Rimoin DL et al (editors). Churchill Livingstone, 2007.


Sunday, January 25, 2009

8 tips gaya hidup untuk menghindari komplikasi diabetes


Mempertahankan control diabetes yang tepat akan membantu anda menghindari komplikasi-komplikasi diabetes seperti masalah pada jantung, nyeri saraf dan neuropati, dan masalah pada kaki. Berikut yang dapat anda lakukan

1. Kurangi berat badan jika perlu. Sekitar 80 hingga 90% penderita diabetes tipe 2 mengalami overweight. Menurunkan kelebihan berat badan membantu mengontrol gula darah dan memperbaiki kondisi gula darah anda.

2. Periksa gula darah anda. Oeriksa kadar gula darah anda dua kali atau lebih sehari. Pertahankan kadar gula darah anda sedekat mungkin dengan normaldalam batas yang disarankan oleh dokter anda. Hal ini membantu memberikan catatan sehingga anda dapat melihat perkembangan dan menentukan efek diet dan aktivitas pada level anda.
Mengetahui bahwa kadar gula darah yang tinggi dapat menimbulkan banyak kerusakan, termasuk pada pembuluh darah yang menyuplai nutrisi pada retina mata, berdampak pada retinopati diabetic, yang menyebabkan penglihatan kabur dan tak jarang kebutaan. Kadar gula darah yang tinggi dapat juga merusak ginjal. Periksa secara teratur kadar A1c untuk mengetahui rata-rata kadar gula darah dalam 2-3 bulan terakhir. Kebanyakan penderita diabetes tipe 2 sebaiknya mengusahakan kadar A1c sekitar 7% atau kurang. Tanyakan pada dokter anda seberapa sering anda memeriksa kadar A1c.

3. Perhatikan asupan karbohidrat anda. Perhatikan seberapa banyak dan sering karbohidrat yang anda konsumsi. Dengan mengatur diet karbohidrat anda , membantu kadar gula anda tetap dalam control. Arahkan pada makanan berserat tinggi, karbohidrat kompleks seperti sayuran hijau, buah-buahan, polong-polongan dan biji-bijian.

4. Pertahankan nilai tekanan darah, kolesterol dan trigliserida dalam control. Penyakit pada jantung merupakan komplikasi yang umum pada diabetes, oleh karena itu, usahakan mempertahankan tekanan darah dan kadar kolesterol dalam batasan nilai normal. Tanyakan dokter anda berapa nilai yang diinginkan untuk tekanan darah, kolesterol dan trigliserida anda. Bekerja sama dengan dokter anda untuk mencapai nilai tersebut dan gunakan pengobatan yang diresepkan.

5. Tetap aktif. Latihan yang teratur dapat membantu mengontrol berat badan anda. Latihan juga membantu mengontrol tekanan darah, kolesterol, dan kadar trigliserida dan menurunkan ketegangan. Usahakan untuk setidaknya 30 menit tiap hari melakukan latihan aerobic 5 hari dalam seminggu. Mulai dengan lebih lambat bila anda telah lama dudu. Latihan untuk mengontrol diabetes dapat berupa jalan, dansa, aerobic , berenang, tennis dan bersepeda. Anda dapat membagi 30 menit tersebut – 10 menit berjalan tiap habis makan, sebagai contoh. Latihan kekuatan dan peregangan juga direkomendasikan.

6. Tidur yang cukup. Ketika tidur anda kurang, anda akan cenderung untuk makan lebih banyak, sehingga berat badan bertamba, menyebabkan anda mengalami komplikasi. Penderita diabetes yang mendapatkan tidur yang cukup sering memiliki kebiasaan makan yang lebih sehat dan memperbaiki kadar gula darah.

7. Managemen stress. Stress dan diabetes bukanlah kombinasi. Stress yang berlebihan akan meningkatkan kadar gula darah. Belajarlah teknik mengurangi stress yang terjadi pada anda. Diantaranya, duduk tenang selama 15 menit, tidak melakukan apa-apa, meditasi dan yoga.

8. Periksa diri anda di dokter setiap tahun. Pada pemeriksaan tiap tahun, dokter anda akan melakukan pemeriksaan mata, tekanan darah, pemeriksaan kaki, dan skrining komplikasi lain seperti tanda-tanda kerusakan ginjal, saraf dan penyakit jantung.

Sumber : http://diabetes.webmd.com/8-lifestyle-tips-to-avoid-diabetes-complications

Test saliva untuk diabetes, prediabetes

Protein-protein dalam saliva mungkin merupakan tanda pada diabetes tipe 2 dan prediabetes

21 Januari 09– para peneliti melakukan tes saliva untuk memeriksa prediabetes dan diabetes tipe 2.
Tes saliva merupakan cara mudah , noninvasive untuk mencegah dan memonitor kondisi-kondisi tersebut, tulis para peneliti termasuk Paturi Rao MD dari Nizam’s Instititude of Medical Science University di Hyderabad,India.
Kelompok Rao membandingkan protein dalam sampel saliva dari 10 orang dengan prediabetes dan diabetes tipe 2 dengan sampel dari 10 orang sehat.
Sejumlah 65 protein saliva yang berbeda antara penderita diabetes dengan orang tanpa diabetes atau diabetes.
Beberapa dari protein tersebut terdapat dalam jumlah berlebihan pada pasien diabetes dibandingkan dengan orang dengan prediabetes. Sehingga jika kadar protein-protein ini mulai meningkat, hal itu mungkin merupakan tanda pengalihan dari prediabetes menjadi diabetes, tulis Rao dan rekan kerja.
Tes saliva untuk diabetes dan prediabetes ini belum disiapkan untuk penggunaan luas. Pertama, hal ini membutuhkan pengujian pada sekelompok orang yang lebih besar.
Kelompok Rao mendeskripsikan pemeriksaan ini secara rinci dalam the Journal of Proteome Research. Beberapa dari peneliti tersebut bekerja pada DiabetOmics, suatu perusahaan Beaverton, Ore yang mengembangkan tes saliva in.

Memahami Bell’s Palsy – Dasar-dasar


Apa itu Bell’s Palsy ?

Bell’s Palsy adalah suatu tipe paralisis (atau kelemahan) pada otot-otot di wajah, diduga akibat inflamasi pada nervus kranialis ketujuh yang dikenal sebagai nervus fasialis. Bell’s Palsy dapat menyerang semua orang, dan lebih sering terjadi pada individu pada masa pemulihan dari infeksi virus dan penderita diabetes. Bell’s Palsy berdampak pada hanya satu sisi wajah dan jarang berulang pada orang yang sama.
Bell’s palsy terjadi dengan sangat tiba-tiba. Anda mungkin pergi tidur pada malam hari tanpa gejala yang mengganggu, ketika anda berkaca keesokan paginya dan memperhatikan wajah anda terasa berat. Beberapa orang merasakan nyeri di belakang telinga satu atau dua hari sebelum mengeluhkan kelemahan. Komentar lain yang terdengar tidak normal dan tidak nyaman beberapa hari sebelum paralisis berkembang. Dalam satu atau dua hari, paralisis umumnya mencapai puncak. Kebanyakan orang mulai pulih dalam dua minggu dan sembuh sempurna dalam tiga bulan. Beberapa orang yang mengalami Bell’s Palsy mengalami periode penyembuhan yang lebih lama atau dengan gejala yang permanen.

Kebanyakan orang dengan Bell’s Palsy cemas menyangka mereka terkena stroke. Keduanya tidak sama karena stroke berdampak pada otot-otot wajah yang juga menyebabkan kelemahan otot pada sisi yang lain dari tubuh.



Apa penyebab Bell’s Palsy ?

Penyebab pasti Bell’s Palsy belum diketahui. Kebanyakan dokter menduga bahwa beberapa proses yang menyebabkan pembengkakan pada nervus fasialis. Karena nervus fasialis melalui suatu daerah yang sempit dan bertulang pada tengkorak , setiap pembengkakan saraf menyebabkannya termampatkan melawan tengkorak yang keras, permukaan tulang. Hal tersebut mengganggu fungsi saraf. Para peneliti telah lama mempercayai bahwa infeksi virus dapat terjadi dalam perkembangan Bell’s Palsy. Para peneliti baru-baru ini menemukan bukti yang menduga bahwa virus herpes simpleks tipe 1 mungkin bertanggung jawab pada persentase besar kasus Bell’s Palsy.
Paralisis pada otot-otot fasialis dimana suatu penyebabnya diketahui disebut fasial palsy. Kasus-kasus yang diketahui termasuk infeksi virus seperti shingles, penyakit Lyme, infeksi telinga, atau pendesakan nervus fasialis oleh tumor jinak yang disebut neuroma akustik. Kerusakan nervus fasialis dapat juga disebabkan oleh kerusakan saraf progresif seperti multiple sclerosis.

Sunday, January 4, 2009

Ekstrak Biji Anggur dapat melawan Leukemia

Ekstrak biji anggur mempercepat kematian sel leukemia pada pengujian di laboratorium
Oleh Miranda Hitti
WebMD Health News
31 Desember 2008 – ekstrak biji anggur mungkin berpotensi untuk menahan leukemia
Para peneliti melaporkan bahwa ketika mereka memaparkan sel leukemia manusia dengan ekstrak biji anggur dalam tabung pengujian, sel leukemia mati lebih cepat dibandingkan biasanya. Dan ekstrak biji anggur tidak merusak sel normal.
“ apa yang setiap orang cari adalah agen yang berefek pada sel kanker tetapi tidak merusak sel normal, dan hal ini menunjukkan bahwa ekstrak biji anggur cocok dimasukkan dalam kategori tersebut.” kata peneliti Xianglin Shi.PhD dalam peluncuran berita.
Tetapi Shi mengatakan bahwa meskipun penelitian ekstrak biji anggur sangat menjanjikan, hal ini masih merupakan tahap dini. “ Sangat cepat untuk mengatakan ini adalah suatu kemoprotektif,” kata Shi.
Pada tahun 2006, peneliti lain melaporkan bahwa ekstrak biji anggur menjanjikan dalam melawan kanker kolon dalam pengujian terhadap tikus di laboratorium. Kelompok Shi juga membaca laporan dari penelitian lain mengenai ekstrak biji anggur dan leukemia.
Kelompok Shhi mencari petunjuk mengenai bagaimana ekstrak biji anggur mempercepat kematian sel leukemia. Mereka menemukan beberapa protein yang rupanya ekstrak biji anggur pengaruhi. Protein-protein tersebut dapat membuat “ sasaran atraktif,” tulis Shi dan rekan-rekannya dalam 1 Januari 2009 , edisi Clinical Cancer Research.
Penelitian Shi tidak memasukkan pengujjian ekstrak biji anggur melawan leukemia pada manusia dan hewan.
Untuk saat sekarang ini, para peneliti tidak membuat suatu rekomendasi mengenai ekstrak biji anggur untuk pasien leukemia. Tetapi mereka menulis bahwa penemuan mereka dapat berimplikasi pada penambahan ekstrak biji anggur atau agen lain untuk kemoterapi atau terapi lain untuk pasien leukemia dan mungkin juga pada kanker darah yang lain.


Gen yang menyebabkan Flu Spanyol 1918 musnah


Peneliti melaporkan, Penemuan dapat berkembang pada obat-obatan antivirus baru untuk pandemi flu berikutnya.
Oleh Miranda Hitti
WebMD Health
29 Desember 2008 – Peneliti telah mengidentifikasi gen-gen yang menyebabkan pandemi flu Spanyol terutama tahun 1918 musnah. Ini merupakan penemuan yang mungkin memberikan kegunaan jika muncul pandemi flu yang lain.
Influenza dapat mematikan, tetapi pandemi flu Spanyol tahun 1918 termasuk dalam kelompoknya sendiri. Flu itu menginfeksi sekitar 500 juta orang di seluruh dunia – sepertiga dari penduduk dunia pada saat itu – dan menyebabkan kematian yang diperkirakan sekitar 20 hingga 30 juta orang, catat Tokiko Watanabe dan rekan dari Universitas Wisconsin – Madison.
Tim Watanabe melihat alasan genetik mengenai mengapa flu tahun 1918 musnah. Mereka memperoleh petunjuk : influenza utamanya menyerang traktus respiratorius bagian atas, tetapi flu tahun 1918 juga menyerang cabang-cabangnya dalam paru-paru.
Di laboratorium mereka, para peneliti membandingkan virus flu K173, dimana sekarang ini berkembang dalam masyarakat dengan virus flu 1918. dan mereka berkonsentrasi pada 3 gen – yang disebut PA, PB1, dan PB2 – yang menginfeksi gen keempat yang disebut NP, untuk membuat suatu perbedaan.
Para peneliti memperoleh gen-gen tersebut dari virus flu 1918, menggantikannya ke dalam virus flu K173 dan menguji hasil dari virus pada sejenis musang. Mereka mebiarkan virus K173 tinggal dalam paru-paru musang, memberi kesan efek virus flu tahun 1918.
Pengusutan genetik “ dapat mengidentifikasi sasaran berguna dalam intervensi obat-obatan ketika sebuah pandemi virus baru mulai muncul,” tulis Watanabe dan rekan dalam edisi online awal pada Proceedings of the National Academy of Sciences.


10 dokumen terpopuler tahun 2008


Berikut adalah berita paling populer tahun 2008 di Medscape
WebMD Health News
Pedoman penatalaksanaan mungkin tidak terdengar seperti tema yang menarik. Tetapi, untuk dokter-dokter, mengetahui bagaimana dan kapan mengobati seseorang dan obat apa yang terbaik digunakan merupakan bagian dari membuat keputusan setiap hari. Tidak ada kejutan, kemudian, berita yang berhubungan dengan isu-isu ini yang merupakan isu paling populer tahun 2008.
Berikut adalah 10 berita tahun 2008 di Medscape , situs rekan WebMD untuk dokter
New Guidelines for Management of Urinary Tract Infection in Nonpregnant Women (Pedoman baru untuk penatalaksanaan infeksi traktus urinarius pada wanita nonpregnant)
Drug Used for COPD Linked to Increased Mortality Risk (Penggunaan obat-obatan pada penderita PPOK dikaitkan dengan peningkatan resiko kematian )
Bisphosphonate Therapy Linked to Risk for Severe Musculoskeletal Pain (Terapi bifosfonat dikaitkan dengan resiko nyeri muskuloskeletal hebat)
Guidelines Issued for Early Detection of Colorectal Cancer (Pedoman untuk deteksi dini kanker kolorektal)
American College of Preventive Medicine Does Not Recommend Prostate Cancer Screening With DRE, PSA (American College of Preventive Medicine tidak merekomendasikan penyaringan kanker prostat dengan DRE,PSA )
Influenza Vaccine May Not Protect Elderly From Pneumonia (Vaksin influensa mungkin tidak melindungi lansia dari pneumonia )
New Pharmacologic Guideline Issued for Treatment of Dementia (Pedoman farmakologi baru untuk penatalaksanaan demensia )
Noncoital Sexual Activity May Not Be "Safe" Sex ( Aktivitas seksual noncoitus mungkin bukan bentuk seks yang aman )
Societies Confront GI Risks of Antiplatelets, NSAIDs in Consensus Document ( Konfrontasi masyarakat : Resiko gastrointestinal dari Antiplatelet, NSAID dalam dokumen konsensus )
Reducing Heart Rate in Hypertension Is Harmful -- or Is It Just Atenolol? (Penurunan denyut jantung pada hipertensi berbahaya – atau apakah hanya karena atenolol ?)



Saturday, December 13, 2008

KRIM HORMON MENGURANGI GEJALA-GEJALA MENOPAUSE


penelitian menunjukkan preparasi dengan senyawa biasa dapat juga mendorong kesehatan jantung

oleh Charlene Laino

WebMD Health News

12 November 2008 (New Orleans)-- para peneliti menduga krim hormon “alami” dapat membantu menghilangkan “hot flashes”, keringat malam, depresi dan gejala-gejala lain dari menopause.

Sebagai keuntungan tambahan, dapat juga meningkatkan kesehatan jantung , kata para peneliti.

Para peneliti meneliti krim dengan senyawa biasa yang dibuat dari hormon derivat tumbuhan yang secara biokimia mirip dengan yang diproduksi oleh tubuh. Sebuah preparat mengandung satu atau lebih hormon berbeda dalam jumlah yang berbeda untuk digunakan oleh setiap wanita yang membutuhkan.


Hormon-hormon dengan senyawa ini telah meningkatkan ketertarikan sejak penelitian besar yang dibiayai pemerintah yang dikenal the Women's Health Initiative menghubungkan penggunaan istilah lama dari terapi penggantian hormon konvensional pada wanita menopause pada peningkatan resiko penyakit jantung, stroke, dan kanker payudara.
Tetapi, yang ada hanya sedikit penelitian yang didesain menunjukkan preparat hormon dengan senyawa biasa bekerja dengan baik.
Penelitian baru ini menduga bahwa ada kandungan “ yang mammpu mengembalikan perubahan pada satu kehidupan wanita,” kata Kenna Stephenson ,MD, dari the University of Texas Health Science Center di Tyler.
“ terapi hormon yang bersifat individual adalah yang wanita butuhkan,” katanya pada WebMD.
Stephenson mempresentasikan penelitian baru ini pada American Heart Association's Scientific Session 2008.
Krim biasa meningkatkan gejal-gejala menopause
penelitian selam 12 bulan yang melibatkan 150 wanita perimenopause dan postmenopause yang berumur antara 30 hingga 70 tahun. Sebagian diberikan pil hormon konvensional – pil pengendali kehamilan pada wanita muda dan Prempro ( estrogen dan progesterone) atau Premarin ( hanya estrogen) pada wanita menopause.
Sebagian lagi diberikan krim yang mengandunh campuran biasa dari beberap kombinasi estrogen, progesterone , dan androgen testosterone dan DHEA.
Sementara androgen merupakan label untuk hormon pria,” hormon ini penting untuk kesehatan wanita juga. Suatu defisiensi telah dikaitkan dengan gejala-gejala menopause, kehilangan libido, dan masalah-masalah lain, Stephenson menambahkan.
Pharmasist secara khusus menempatkan krim dalam spoit plastik yang mengandung jumlah tepat kebutuhan wanita setiap hari, katanya.
Setahun kemudian, wanita yang menggunakan campuran hormon dilaporkan secara bermakna kurang dalam depresi, kecemasan, dan nyeri. Mereka mengalami sedikit “hot flashes” dan keringat dingin. Kualitas hidup mereka membaik. Tekanan darah dan trigliserida menurun. Level C- reactive protein (CRP) dan tanda-tanda inflamasi berbahaya lainnya dalam arteri yang dapat berkembang menjadi bekuan darah berkurang.
Sebaliknya, pil dengan hormon konvensional telah menunjukkan peningkatan trigliserida dan level CRP, kata Nieca Goldberg,MD, seorang jurubicara dari American Heart Association dan spesialis jantung di Lenox Hill Hospital di New York.
“Hal ini menunjukkan bahwa preparat ini dapat melindungi dari serangan gejala-gejala menopause sebaik pada penyakit jantung, tetapi tentu membutuhkan penelitian yang lebih besar untuk memastikannya,” katanya pada WebMD.
Stephenson mengatakan wanita yang ingin menggunakan campuran hormon harus yakin bahwa mereka memilih seorang farmasist yang berlisensi dan telah terlatih.
The International Academy of Compounding Pharmacist, yang membantu dalam pembiayaan penelitian ini, membangun sebuah daftar anggota dengan pelatihan khusus, katanya.