Sunday, March 22, 2009

Hydrogen Sulfide dapat Mengobati Tekanan Darah Tinggi

Para peneliti menyatakan bahwa Hidrogen Sulfide menjadi kunci obat-obatan baru untuk terapi tekanan darah tinggi

Oleh Caroline Wilbert

Louise Chang,MD

23 Okt 2008 – Hidrogen Sulfit kadangkala memberikan sedikit keburukan karena baunya – bayangkan telur busuk – tetapi sebenarnya menurut suatu penelitian baru berguna untuk mengatur tekanaan darah kita.
Hidrogen sulfit diproduksi dalam lapisan tipis pada pembuluh darah dan mengatur tekanan darah melalui relaksasi pembuluh darah, berdasarkan penelitian yang diterbitkan di Science.

Guangdong Yang,PhD, dari University of Saskatchewan dan Lakehead University di Kanada, dan rekan-rekan mendasarkan penemuan mereka pada penelitian terhadap tikus. Para peneliti menguji 2 kelompok tikus – satu kelompok tidak mendapatkan CSE, suatu enzim yang lama diduga memproduksi hidrogen sulfit, dan kelompok lainnya diperlakukan normal. Level hidrogen sulfit diukur pada keduanya. Kelompok tanpa pemberian CSE memiliki level hidrogen sulfit yang lebih rendah. Hal ini membuktikan mamalia memproduksi hydrogen sulfit dalam jaringan menggunakan CSE.

Kemudian, peneliti memasang manset kecil pada ekor tikus dan mengukur tekanan darahnya. Tikus dengan level hidrogen sulfit yang lebih rendah mengalami penurunan sekitar 20 poin dalam tekanan darah mereka.

Ketika defisit tikus terhadap CSE diberkan dosis hidrogen sulfat, ditemukan pembacaan tekanan darah yang lebih rendah.

Penulis penelitian berpendapat bahwa obat-obatan baru berkonsentrasi pada hydrogen sulfit dapat dikembangkan dalam rangka terapi hipertensi pada manusia.

” Sekarang kita mengenal peranan hidrogen sulfit dalam mengatur tekanan darah, hal ini memungkinkan untuk mendesain terapi obat-obatan yang meningkatkan bentukannya sebagai alternative dalam metode mutakhir terapi hipertensi,” kata H.Snyder,MD , koautor dan neuroscientist John Hopkins saat pemunculan berita.



Vitamin C dan E tidak menurunkan resiko jantung

Penelitian menunjukkan vitamin-vitamin tidak membantu mencegah serangan jantung dan strok.

Oleh : Salynn Boyles
Ulasan Louise Chang,MD

10 Nov 2008 – Sebuah penelitian selama delapan tahun melibatkan hampir 15.000 dokter gagal menunjukkan keuntungan penggunaan vitamin C dan E dalam pencegahan serangan jantung dan strok.

Penelitian baru ini mendukung penemuan sebelumnya dari percobaan-percobaan besar sebelumnya yang menunjukkan tidak ada keuntungan untuk vitamin E. Tetapi, penelitian ini adalah penelitian besar pertama yang menguji dampak suplemen vitamin C pada resiko kardiovaskuler.
”Kami tidak melihat efek baik vitamin E maupun C dalam penelitian terhadap pria dengan resiko rendah inisiasi penyakit kardiovaskuler,” ungkap Howard D.Sesso,ScD dari Boston Brigham and Women’ Hospital kepada webMD.

Satu dekade sebelumnya, ketika pendaftaran Physicians’ Health Study II terjadi, ketertarikan lebih melingkupi antioksidan seperti vitamin C, vitamin E dan beta karoten.
Penelitian terhadap tikus memperkirakan bahwa antioksidan- antioksidan ini membantu melindungi dari penyakit kardiovaskuler dengan melambatkan pembentukan plak dalam arteri.
Tetapi penelitian baru-baru ini menguji suplemen antioksidan pada orang secara umum telah mengecewakan.

Penelitian baru ini dilansir tanggal 12 Nov pada The Journal of the American Medical Association. Sejumlah 1.641 dokter pria yang berusia 50 tahun atau lebih menggunakan 500 mg vitamin C dan placebo, 400 IU vitamin E dan placebo, kedua vitamin, atau kedua placebo setiap hari selama rata-rata 8 tahun.
Selama masa ini ada 1243 dikonformasii mengalami kejadian kardiovaskuler mayor.

Tidak vitamin, ataupun kombinasi keduanya ditemukan memiliki efek bermakna pada resiko serangan jantung, strok dan kejadian kardiovaskuler lain.
Peneliti ini memutuskan bahwa penemuan tidak mendukung penggunaan suplemen ini untuk mencegah penyakit kardiovaskuler pada pria paruh baya dan usia lanjut.
Penelitian pada wanita juga menunjukkan sedikit atau tidak ada keuntungan pada suplemen vitamin E.

Multivitamin dan Resiko Jantung
Sesso dan kolega terus mengamati pria dalam penelitian mereka yang menggunakan suplemen multivitamin.
“ Ini adalah penelitian satu-satunya yang saya tahu dari pengujian penggunaan multivitamin lebih dari satu dekade diamati,”katanya.
” Prevalensi penggunaan multivitamin sangat tinggi. Banyak orang, termasuk saya sendiri, menggunakannya tanpa memiliki bukti kuat nyata untuk waktu lama, percobaan klinik berskala besar untuk mendukung pernyataan keuntungan.”

Kardiologis Mayo Clinic Raymond Gibbons,MD mengatakan pasien ingin percaya bahwa vitamin dapat melindungi jantung mereka meskipun hanya sedikit bukti untuk mendukungnya.
Gibbons adalah mantan presiden dari American Heart Association



Down Syndrome

Dasar diagnosis
• Bentuk muka tipikal(occiput datar,lipatan epikantus dan lidah lebar)
• Retardasi mental
• Penyakit jantung congenital (mis defek katub triventrikuler) pada 50% pasien.
• Trisomy 21atau penyusunan kembali kromosom yang menyebabkan 3 tiruan dari suatu bagian lengan panjang kromosom 21.

Gambaran klinis

Tanda dan Gejala
Sindrom down biasanya didiagnosis pada saat kelahiran berdasarkan roman muka yang khas, hipotoni, dan lipatan palmar tunggal. Beberapa masalah serius yang dapat terjadi pada kelahiran atau berkembang pada masa kanak awal termasuk atresia duodenalis, penyakit jantung congenital (terutama defek kanal atrioventrikuler) dan leukemia. Anomali usus dan jantung biasanya berespon terhadap pembedahan, dan leukemia biasanya berespon terhadap penanganan konservatif. Inteligensi bervariasi dalam spektrum yang luas. Banyak orang dengan sindrom down dapat bekerja dengan baik di tempat-tempat kerja yang menaungi dan kelompok-kelompok,tetapi sedikit pencapaian kebebasan penuh pada remaja. Demensia yang menyerupai alzheimer biasanya menjadi bukti pada decade keempat atau kelima dan jumlah yang bertahan setelah remaja menurun tingkat harapan hidupnya. Penelitian menempatkan resiko dan keparahan demensia pada hubungannya dengan apolipoprotein genotip E yang masih menimbulkan prokontra.

Pemeriksaan laboratorium
Analisa sitogenetik sebaiknya selalu dilakukan meskipun kebanyakan pasien memiliki trisomi kromosom 21 untuk mendeteksi gangguan translokasi , pasien mungkin memiliki salah satu orang tua dengan translokasi stabil, dan akan ada resiko rekuren substansial dari sindrom Down pada keturunan yang akan datang.

Pencegahan
Adanya fetus dengan sindrom Down dapat dideteksi pada awal trimester kedua melalui screening serum maternal untuk α-fetoprotein dan hormon tertentu (multiple marker screening) dan dengan mendeteksi peningkatan ketebalan dan ultrasound fetus. Resiko mengasuh anak yang menderita sindrom Down meningkat secara eksponensial dengan usia ibu saat konsepsi dan dimulai usia 35 tahun. Pada usia 45 tahun, ibu memiliki kemungkinan 40% memiliki anak yang menderita. Resiko dari keadaan lain yng berhubungan dengan trisomi juga meningkat, karena peningkatan predisposisi dari oosit tua untuk tidak memisah selama meiosis. Ada resiko kecil dari trisomi yang dikaitkan dengan peningkatan usia dari pihak ayah. Namun, laki-laki yang lebih tua memiliki suatu peningkatan resiko menjadi ayah dari anak dengan suatu keadaan dominan autosomal yang baru.

Terapi
Atresia duodenal sebaiknya diterapi secara bedah. Penyakit jantung konganital sebaiknya diterapi sama seperti pasien lain. Tidak ada terapi kesehatan telah membuktikan efektivitas pada kemampuan intelektual.

Kepustakaan
Andriolo RB et al. Aerobic exercise training programmes for improving physical and psychosocial health in adults with Down syndrome. Cochrane Database Syst Rev. 2005 Jul 20;(3):CD005176. [PMID: 16034968]
Cohen WI. Current dilemmas in Down syndrome clinical care: celiac disease, thyroid disorders, and atlanto-axial instability. Am J Med Genet C Semin Med Genet. 2006 Aug 15;142(3):141–8. [PMID: 16838307]
Dierssen M et al. Pitfalls and hopes in Down syndrome therapeutic approaches: in the search for evidence-based treatments. Behav Genet. 2006 May;36(3):454–68. [PMID: 16520905]
Dixon N et al. Clinical manifestations of hematologic and oncologic disorders in patients with Down syndrome. Am J Med Genet C Semin Med Genet. 2006 Aug 15;142(3):149–57. [PMID: 17048354]
Galley R. Medical management of the adult patient with Down syndrome. JAAPA. 2005 Apr;18(4):45–6, 48, 51–2. [PMID: 15859488]
Reddy UM. Incorporating first-trimester Down syndrome studies into prenatal screening: executive summary of the National Institute of Child Health and Human Development workshop. Obstet Gynecol. 2006 Jan;107(1):167–73. [PMID: 16394055]
Tolmie JL et al. Down syndrome and other autosomal trisomies. In: Emery and Rimoin's Principles and Practice of Medical Genetics, 5th ed. Rimoin DL et al (editors). Churchill Livingstone, 2007.