Friday, October 2, 2009

Demam Berdarah Dengue

download word

A. Defenisi
Penyakit Demam Berdarah atau Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) ialah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus.

B. Etiologi
Demam berdarah dengue disebabkan oleh virus dengue yang termasuk kelompok Flaviviridae. Ada empat serotype virus dengue, yaitu DENV-1, DENV-2, DENV-3, dan DENV-4 yang mempunyai antigen serupa, namun berbeda dalam mengeluarkan proteksi silang parsial transien setelah infeksi pada masing-masing tipe virus. Survei serologis memperlihatkan bahwa keempat serotype dengue ditemukan di Indonesia, DENV-2 dan DENV-3 merupakan serotippe yang dominan, namun DENV-3 berkaitan dengan kasus DBD yang berat. Periode inkubasi antar 3 – 10 hari dengan rata-rata 4 – 6 hari.

C. Epidemiologi
Dalam jumlah angka kesakitan (morbidity rate) dan kematian (mortality rate) demam berdarah dengue di kawasan Asia Tenggara, selama kurun waktu 1985-2004, Indonesia berada di urutan kedua terbesar setelah Thailand (WHO 2004). Di Indonesia , pengaruh musim terhadap DBD tidak begitu jelas, tetapi secara garis besar dapat dikemukakan bahwa jumlah penderita meningkat antara bulan September sampai Februari dan mencapai puncaknya pada bulan Januari. Angka kematian (CFR) dengue di Indonesia sekitar 1% pada tahun 2007.

D. Patofisiologi
Peningkatan permebilitas kapiler yang menyebabkan kebocoran plasma diinduksi oleh beberapa mediator seperti C3a,C5a. Hal ini mengakibatkan hemokonsentrasi, hipoproteinemia / hipoalbuminemia, efusi pleura, asites, dan tanda-tanda syok.
Gangguan hemostasis berupa pendarahan disebabkan oleh vaskulopati, disfungsi trombosit dan koagulopati. Tes tourniquet positif menandakan fragilitas kapiler yang meningkat pada stadium awal demam dan merupakan efek langsung dengue virus selama fase viremia. Mekanisme trombositopenia meliputi peningkatan destruksi perifer yang dimediasi imun.

E. Diagnosis
Infeksi DENV bisa bersifat asimptomatik, atau menimbulkan gejala demam yang tidak spesifik, DD ataupun DBD dengan kebocoran plasma yang berkomplikasi menjadi SSD.
Demam dengue ditandai dengan demam akut 2 – 7 hari bersifat saddle back, dengan lebih dari 2 gejala : sakit kepala berat, nyeri retroorbita, mialgia/atralgia, disertai leucopenia, trombositopenia tetapi tidak terdapat kebocoran plasma. Manifestasi perdarahan berupa petekiae ,gusi berdarah, perdarahan saluran cerna, hematuria, dan menorrhagia.

Pedoman WHO tahun 1997 untuk menegakkan diagnosis DBD dini :
a. Klinis : - demam mendadak 2 – 7 hari
- Perdarahan (uji tourniquet (+), petekie, epistaksis, hematemesis, dan lain-lain)
- Hepatomegali
- Syok (nadi kecil dan cepat dengan tekanan nadi <>
  • Derajat 1 : Demam disertai gejala tidak khas, dan satu-satunya manifestasi perdarahan adalah uji tourniquet
  • Derajat 2 : Derajat I, disertai perdarahan spontan di kulit dan atau perdarahan lainnya.
  • Derajat 3 : Didapatkan kegagalan sirkulasi , yaitu nadi cepat dan lemah, tekanan nadi menurun, atau hipotensi, sianosis di sekitar mulut, kulit lembab dan tampak gelisah.
  • Derajat 4 : Syok berat, nadi tidak teraba dan tekanan darah tidak terukur.

F. Penatalaksanaan
Pada dasarnya, pengobatan DBD bersifat supportif, yaitu mengatasi kehilangan cairan plasma sebagai akibat peningkatan permeabilitas kapiler dan sebagai akibat perdarahan untuk memperbaiki hemodinamik. Steroid, antivirus, atau karbazocrom (berfungsi menurunkan permeabilitas kapiler) tidak terbukti peranannya dalam mengatasi infeksi dengue. Pada pasien tanpa syok , hidrasi oral harus dimulai secara dini. Parasetamol dapat digunakan untuk mengatasi gejala demam dan sebagai analgetik. Aspirin dan semua jenis NSAID harus dihindari. Pemberian transfusi darah atau trombosit dan FFP sebagai profilaksis untuk kasus perdarahan berat pada kasus dengue masih diperdebatkan meski secara luas masih digunakan. Pemilihan cairan kristaloid atau koloid pada SSD masih diperdebatkan.

G. Pencegahan
Penyakit DBD ini dipengaruhi oleh tiga hal penting yaitu virus dengue, nyamuk Aedes Aegypti yang perindukannya dipengaruhi kondisi lingkungan, serta faktor ketahanan tubuh individu. Pencegahan dengue masih terfokus pada eradikasi vector nyamuk Aedes spp yang masih sulit dikontrol. Di Indonesia, dikenal PSN-DBD dengan cara menguras secara teratur seminggu sekali atau menaburkan bubuk abate atau altosit ke tempat penyimpanan air (TPA) , menutup rapat TPA, mengubut atau menyingkirkan kaleng bekas dan barang lain yang dapat menampung air hujan sehingga tidak menjadi sarang nyamuk.


DAFTAR PUSTAKA

  1. Koban, Antonius Wiwan. 2005. Kebijakan Pemberantasan Wabah Penyakit : Klb Demam Berdarah Dengue. http://theindonesianinstitute.com/index2.php. Diakses tanggal 9 September 2009.
  2. Mashoedi , Imam Djamaludin, Qathrunnada Djam’an, Muhammad Purnomo. 2007. Deteksi Virus Dengue Pada Isolat Nyamuk Aides Spp Dan Larvanya Di Daerah Endemis Demam Berdarah Dengue (Studi Kasus Di Kota Semarang). http://www.unissula.ac.id/perpustakaan/index.php?view=article&catid=79%3Apenelitian-2007&id=226%3Adeteksi-virus-dengue-pada-isolat-nyamuk-aides-spp-dan-larvanya-di-daerah-endemis-demam-berdarah-dengue-studi-kasus-di-kota-semarang-&format=pdf&option=com_content&Itemid=64. Diakses tanggal 9 September 2009.
  3. Nasronuddin. Aspek Klinik Penyakit Demam Berdarah Dengue. Tropical Disease Center Universitas Airlangga.
  4. Santoso, Ida Melani. 2009. Perbandingan sensitivitas dan spesifitas antibody IgM dan IgG dengue pada serum ,Saliva dan Urin. Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin. Makassar.
  5. Wahono, Tri Joko. Demam Berdarah Dengue. http://www.dkk-bpp.com/index2.php. Diakses tanggal 9 September 2009.

No comments: